Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Oktober 2013

[Cerita Kilat] Halte Sekolah


Hujan semakin lebat. Angin sore dengan suhu yang tidak seperti biasanya menelusuri kulit hingga terasa ke tulang. Sudah 30 menit Alvian menunggu hujan reda di halte depan sekolah. Sebagai pengendara sepeda motor yang bandel, lelaki berambut ikal itu selalu ogah membawa mantel atau jaket sekalipun.
Terlihat dari kejauhan seorang gadis berlari kecil menghampiri halte ini, dengan sebuah map plastik yang ditutupkan di atas kepalanya. Alvian menggeser diri sedikit ke kiri agar gadis itu bisa duduk di sebelahnya. Semoga, gumamnya dalam hati.

Rabu, 28 November 2012

Hari Terakhir


Semakin jauh. Lingkaran merah di kalender meja kerjaku kian menusuk pikiran. Bahkan, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi tentang semua hari, kecuali hari yang dilingkari itu. 

Masih di kalender tak bergambar itu. Ada namaku jelas di sana. Memang, tanggal itu sudah lewat. Tapi, semakin tanggal itu menjauh, semakin menusuk pikiranku. Semakin rindu akan keluargaku.

Perlahan, aku mulai beranjak dari kursi kerjaku. Aku memberanikan diri untuk melihat istri dan anakku yang tertidur lelap. Dalam jarak sedekat ini, itulah jarak paling jauh yang pernah aku ukur. 

Angin malam mulai meraba-raba apa yang ia hendaki. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.50.
“Ayo kita pergi. Waktumu telah habis di dunia ini.” Tiba-tiba seseorang memegang bahuku.

Sabtu, 24 November 2012

Surat dari Kurir Penghibur


“Permisi....”

“Iya, Mas? Surat lagi?” 

“Iya, Mbak. Wah, kelihatannya mbak ini banyak pengagum, ya? Sebulan ini, hampir setiap hari ada surat yang saya antar ke rumah ini. Pengirimnya berbeda semua pula,” katanya sambil tertawa kecil.

“Ah, Mas bisa aja. Kali ini, dengan cara apa lagi Si Pengirim surat meminta Mas untuk saya?”

“O, iya. Dengan menyanyi, mbak. Lagu dari Anji, Kekasih Terhebat.”

“Silakan!” seruku. Seperti biasa, aku menikmati setiap hal-hal yang dia lakukan atas permintaan Si Pengirim surat itu.

Sebulan terakhir, aku telah terhibur oleh kurir surat ini. Pilihanku tepat. Sepertinya memang dia yang aku cari. Tidak salah aku mengirimkan surat-surat ini ke alamatku sendiri, hanya untuk melihatnya menghiburku setiap hari.

Sabtu, 26 Mei 2012

[Cerita Kilat] Cita-cita Kecilmu di Taman Hemerocallis



Sore itu, aku masih menunggu kekasihku online di media chat Yahoo! Massenger. Dengan sabar, aku menunggunya sambil mendengar beberapa lagu favorit kami. Sejam, dua jam, hingga terdengar sayup-sayup indah suara adzan maghrib. Dia belum muncul juga.
***
Kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu dan kebahagiaan ini kupastikan tak akan sirna dari hatiku selamanya. Masih di pikaranku, dia memakai gaun pengantin yang indah, berjalan menuju pelaminan dengan senyum lembutnya dan ada cintaku disetiap langkah kakinya. Ini pengalaman pertamaku menikah dan akan menjadi yang terakhir. Begitu sumpahku.
tingg’ bunyi menandakan ada notifikasi dari media chat itu. Dengan senyum mengembang aku kirim emoticon senyum ke kekasihku yang baru saja online

Aldi      : “ :) ”

Dewi    : “Hai sayang, maaf aku baru balik. Ada apa? Bagaimana kabar kamu hari ini?”

Aldi      : “Aku baik-baik saja. Aku rindu sekali denganmu entah kenapa, padahal baru kemarin sore kita berpisah.”

Dewi    : “hahaha, kamu kok jadi manja gini? Aku tidak pernah mendengar kalimat ini sebelumnya.”

Aldi      : “Aku tahu kita pasti akan bertemu lagi, tapi aku benar-benar merasa rindu.”

Dewi    : “Tuhan tak pernah ingkar janji. Dia akan memberi yang terbaik buat kita. Mungkin ini emang sudah takdir Tuhan untuk kita, sayang.”

Aku mulai meneteskan airmata membaca kata takdir itu. Ada rasa sedikit pemberontakkan ku kepada-Nya, kenapa dia tak adil denganku. Dengan tenang aku mulai menarik napas dalam-dalam dan lanjut mengobrol.

Aldi      : “Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang paling indah. Disana ada taman bunga lily kesukaanmu.”

Dewi    : “Kita akan kesana, sayang. Aku, kamu, dan juga anak-anak kita kelak. Aku akan menjadi yang terindah buatmu.”

Aldi      : “Rasanya, aku ingin sekali menyusulmu ke sana. Entah bagaimana caranya...”

Aku terdiam sejenak, menatap tajam kalimat-kalimat obrolan itu. Membayangkan kami sudah ada di taman itu, bersenang-senang dengan canda tawa kami. Mungkin aku sudah gila karena kekecewaanku padanya dan tidak bisa menerima kenyataan yang sedang digariskan Tuhan.

Di atas meja, terdapat foto kami berdua yang masih sangat baru di pesta pernikahan kami dan bunga lily masih terbungkus rapi yang belum sempat aku berikan untuk malam pertama kami. Masih tertata rapi semua hadiah pernikahan kami yang bersebelahan dengan cincin pernikahannya. 

Kutatap dua akun chat dari kedua laptopku. Akun Aldi  dan Dewi yang sama-sama menyala di hadapanku. Aku sedang berbicara kepada diriku sendiri di dalam obrolan tersebut. Aku hanya tidak bisa terima bahwa dia telah tiada di hari menjelang pernikahan kami. Terlalu cepat Tuhan mengambilnya.

Ilustrasi: http://sepocikopi.com