Minggu, 27 Oktober 2013

[Cerita Kilat] Halte Sekolah


Hujan semakin lebat. Angin sore dengan suhu yang tidak seperti biasanya menelusuri kulit hingga terasa ke tulang. Sudah 30 menit Alvian menunggu hujan reda di halte depan sekolah. Sebagai pengendara sepeda motor yang bandel, lelaki berambut ikal itu selalu ogah membawa mantel atau jaket sekalipun.
Terlihat dari kejauhan seorang gadis berlari kecil menghampiri halte ini, dengan sebuah map plastik yang ditutupkan di atas kepalanya. Alvian menggeser diri sedikit ke kiri agar gadis itu bisa duduk di sebelahnya. Semoga, gumamnya dalam hati.
Gadis cantik, rambut sebahu, dan berlesung pipit ini akhirnya duduk di sebelah Alvian. Ia tampak gelisah. Jari-jari mungilnya selalu ia mainkan untuk menghilangkan rasa canggung. Jelas terlihat apa yang terjadi dengannya.
“Sendirian?” sapa Alvian dengan sedikit keras karena suara hujan lebat.
“Iya. Sebentar lagi dijemput.”
Senyuman gadis ini membuat Alvian tidak bisa berpikir beberapa detik. Blank.
“Alvian. Anak 12 IPA 3.”
“Dina. 11 IPA 2.”
Jam sekolah sudah selesai sejak 2 jam yang lalu. Tidak ada lagi murid yang terlihat di sekitar kecuali mereka berdua dan tukang asongan yang sedang duduk di sudut halte menunggu hujan reda untuk menjajakkan kembali dagangannya.
Alvian menghampiri tukang asongan tersebut dan membeli 2 teh botol dan kembali ke tempat duduk di samping gadis manis tadi. Tentu saja, minuman yang kedua untuk gadis itu. Tanpa penolakan sedikitpun, Dina menerimanya dengan senyuman lagi. Alvian semakin kaku di sebelahnya.
“Jam berapa kamu dijemput, Din? Sepertinya aku lihat kamu belum dijemput dari jam 1 tadi. Kalau hujan reda, mau aku antar?”
“Sebentar lagi, ini udah di-sms. Jangan deh, makasih,” jawab Dini sambil wajahnya menghadap ke layar ponsel miliknya.
“Kamu tau gak, Din. Aku seneng bisa berteduh dari hujan di halte ini. Dari kemarin aku kangen nunggu momen seperti ini sebulan. Sebelum pulang dari sekolah, aku lihat langit sudah mulai mendung, makanya aku bertahan di sini sampai hujan. Jadi judulnya aku bukan berteduh.” Alvian mulai menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang mulai pucat.
“Sama, Yan. Aku juga. Tapi aku gak seniat kayak kamu. Memang kebetulan aja aku ada perlu di sekolah, pulang telat dan terjebak di halte ini.”
Dini masih sibuk dengan ponselnya. Menunggu harap-harap cemas. Ia mulai sedikit menggoyangkan kakinya seperti sedang menunggu sesuatu. Alvian sesekali mencuri pandang ke arah wajah Dini. Jantungnya mulai berdegub tak karuan. Pikirannya kacau. Dadanya sakit.
Jelang beberapa menit, sebuah mobil nissan livina berhenti tepat di depan halte dan membunyikan klaksonnya sekali. Dini mulai beranjak dari tempat duduknya dan mengecek kembali keadaan di sekitarnya siapa tahu ada yang tertinggal.
“Alvian, aku duluan, ya. Terima kasih teh botolnya. Kapan-kapan aku yang traktir.”
Alvian tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Dini. Dadanya semakin sakit. Dini tak berubah, pikirnya. Doanya terkabul. Duduk di saat hujan di halte kenangannya bersama mantan kekasih memang menjadi doa utamanya setiap hari. Setidaknya untuk beberapa menit sudah terkabul.
Halte ini adalah tempat mereka pertama kali bertemu, tempat Alvian menyatakan cinta ke Dina, tempat mereka berakhir dan tempat di mana Alvian yang baru saja melepas rindu setelah setahun lamanya mereka tak saling berkomunikasi.
Mereka memang sepakat untuk saling melupakan. Hanya sekedar lupa. Tak ada salahnya memang dengan berkenalan kembali, tanpa ada rasa yang dulu.  Berkenalan seperti orang yang belum pernah berjumpa sama sekali. Yang pasti, harapan itu masih ada di hati Alvian. Entah sampai kapan.
Ilustrasi: http://bonoaksa.files.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar