Semakin jauh. Lingkaran merah di kalender meja kerjaku kian
menusuk pikiran. Bahkan, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi tentang semua hari,
kecuali hari yang dilingkari itu.
Masih di kalender tak bergambar
itu. Ada namaku jelas di sana. Memang, tanggal itu sudah lewat. Tapi, semakin
tanggal itu menjauh, semakin menusuk pikiranku. Semakin rindu akan keluargaku.
Perlahan, aku mulai beranjak dari
kursi kerjaku. Aku memberanikan diri untuk melihat istri dan anakku yang tertidur
lelap. Dalam jarak sedekat ini, itulah jarak paling jauh yang pernah aku ukur.
Angin malam mulai meraba-raba apa
yang ia hendaki. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.50.
“Ayo kita pergi. Waktumu telah
habis di dunia ini.” Tiba-tiba seseorang memegang bahuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar