***
Kami baru saja menikah beberapa hari yang lalu dan kebahagiaan ini
kupastikan tak akan sirna dari hatiku selamanya. Masih di pikaranku, dia
memakai gaun pengantin yang indah, berjalan menuju pelaminan dengan senyum
lembutnya dan ada cintaku disetiap langkah kakinya. Ini pengalaman pertamaku
menikah dan akan menjadi yang terakhir. Begitu sumpahku.
‘tingg’ bunyi menandakan ada notifikasi
dari media chat itu. Dengan senyum mengembang aku kirim emoticon senyum ke kekasihku yang baru saja online.
Aldi : “ :) ”
Dewi : “Hai
sayang, maaf aku baru balik. Ada apa? Bagaimana kabar kamu hari ini?”
Aldi : “Aku
baik-baik saja. Aku rindu sekali denganmu entah kenapa, padahal baru kemarin
sore kita berpisah.”
Dewi : “hahaha, kamu
kok jadi manja gini? Aku tidak pernah mendengar kalimat ini sebelumnya.”
Aldi : “Aku
tahu kita pasti akan bertemu lagi, tapi aku benar-benar merasa rindu.”
Dewi : “Tuhan tak
pernah ingkar janji. Dia akan memberi yang terbaik buat kita. Mungkin ini emang
sudah takdir Tuhan untuk kita, sayang.”
Aku mulai
meneteskan airmata membaca kata takdir itu. Ada rasa sedikit pemberontakkan ku kepada-Nya,
kenapa dia tak adil denganku. Dengan tenang aku mulai menarik napas dalam-dalam
dan lanjut mengobrol.
Aldi : “Aku
ingin mengajakmu ke suatu tempat yang paling indah. Disana ada taman bunga lily
kesukaanmu.”
Dewi : “Kita akan
kesana, sayang. Aku, kamu, dan juga anak-anak kita kelak. Aku akan menjadi yang
terindah buatmu.”
Aldi :
“Rasanya, aku ingin sekali menyusulmu ke sana. Entah bagaimana caranya...”
Aku terdiam
sejenak, menatap tajam kalimat-kalimat obrolan itu. Membayangkan kami sudah ada
di taman itu, bersenang-senang dengan canda tawa kami. Mungkin aku sudah gila
karena kekecewaanku padanya dan tidak bisa menerima kenyataan yang sedang
digariskan Tuhan.
Di atas
meja, terdapat foto kami berdua yang masih sangat baru di pesta pernikahan kami
dan bunga lily masih terbungkus rapi yang belum sempat aku berikan untuk malam pertama
kami. Masih tertata rapi semua hadiah pernikahan kami yang bersebelahan dengan cincin
pernikahannya.
Kutatap dua
akun chat dari kedua laptopku. Akun Aldi dan Dewi yang sama-sama menyala di hadapanku. Aku
sedang berbicara kepada diriku sendiri di dalam obrolan tersebut. Aku hanya
tidak bisa terima bahwa dia telah tiada di hari menjelang pernikahan kami. Terlalu
cepat Tuhan mengambilnya.
Ilustrasi: http://sepocikopi.com
Ilustrasi: http://sepocikopi.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar