Jumat, 27 Desember 2013

Hari Perpisahan

Pukul satu siang. Hujan memaksa kami berteduh di Pos Satpam sekolah. Hanya kami berdua, aku dan orang yang paling aku kagumi sedunia. Sesekali kupandang wajahnya, yang aku tahu, air di kedua pipinya itu bukan berasal dari hujan. Ia mulai menyamarkan kesedihannya, dengan menadah air yang turun dari tempias dan membasuhi wajahnya sendiri seperti orang yang mengamini doa yang penuh harap. 

“Kenapa?” Tiba-tiba saja ia mendorongku dari pikiran yang berusaha untuk membaca wajahnya.

“Eh, gapapa. Kamu baik-baik aja?”

“Ya,” jawabnya singkat.

Selang beberapa lama, mobil jemputannya datang. Ia beranjak dari tempatnya, dengan meninggalkan sedikit senyuman yang bisa kulihat dengan jelas dari sisi kirinya.


Enam bulan berlalu. Saat itu, hari perpisahan sekolah kami. Kami bangga menjadi murid sekolah dengan jumlah kelulusan tertinggi. Aku semakin akrab dengan Nadia, gadis yang enam bulan silam membuat aku jatuh hati tanpa sepengetahuannya. Kurasa, ini saatnya untuk berkata jujur bahwa dialah yang membuat aku bahagia.

“Nad, bisa ngobrol sebentar?” Spontan ia memalingkan wajah dari teman-temannya.

“Bisa. Di sini?” Tanyanya sambil mengangkat kedua alis.

Aku langsung menarik pelan tangan kanannya ke teras gedung sekolah. Lalu menggenggam kedua tangannya setelah menjejak di lantai keramik putih itu.

“Nad, kamu mungkin tahu aku sering memperhatikanmu sejak di kelas satu. Sejak enam bulan terakhir, hatiku semakin mantap untuk bisa dekat dengan kamu. Hari ini sengaja aku pilih untuk mengungkapkan semua apa yang aku rasa. Aku cinta sama kamu. Kamu...”

“Mau,” potongnya.

Aku sedikit mengerutkan dahi. Semudah inikah? Atau Ia juga memang jatuh hati padaku sejak lama?
Kami saling melempar senyum.

“Aku ke teman-teman lagi, ya. Ini kan hari perpisahan.” Ia melepaskan genggamanku perlahan, lalu pergi ke ruangan tempat acara yang dibuat untuk kami, para alumni baru. Aku masih terdiam menunggunya hilang di mataku. Ia membalikkan wajah dengan sedikit senyum sebelum hilang ditelan daun pintu besar yang ada di sampingnya. Sekilas, terlihat mata yang ragu. Aku tahu itu.

Satu bulan berlalu. Kabar pertama yang kudapat dari Nadia melalu surat yang tak dilengkapi alamat pengirimnya. Sudah sebulan aku tak mendapat kabar darinya. Rasa sakit masih ada hingga sekarang. Hingga sekarang, saat aku duduk dengan secangkir cokelat panas dan setumpuk kenangan yang aku gali untuk dituliskan kembali.

Surat itu berada di dalam tasku. Sepertinya diselipkan oleh seorang teman pada saat aku meninggalkannya di kelas untuk mengambil Ijazah.

Surat yang tak pernah kusimpan. Tak pernah kuingat. Yang kuingat, hanya rasa saat membaca kata demi kata surat yang berisi berkali-kali permohonan maaf. Akulah orang yang menjadi pelampiasan dendamnya. Orang yang menjadi obat sakit hatinya, dengan memindahkan sakit hatinya itu kepada orang lain: aku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar