Kamis, 04 Juli 2013

Pindah Tunggangan Singa

Ilustrasi. Foto: beritaekonomi.kiosgeek.com

Ujian akhir selesai. Seperti biasa, sebagai anak perantau, saya pulang kampung. Kali ini saya pulang dengan menumpang Lion Air. Maskapai LCC ini saya pilih karena dengan harga termurah, dan dengan resiko terbawah pula. Hehe.

Setelah reservasi tiket, nomor penerbangan saya berkode Wings Air IW-1684, tapi menumpang pesawat Lion Air JT-1684. Sama saja sih.



Rabu, 3 Juli 2013 15.30 semua penumpang naik ke pesawat. Pesawat yang saya tumpangi ternyata PK-LII. Pesawat tersebut yang pernah tergelincir di Pontianak, kemudian beroperasi lagi setelah diperbaiki. Ya, gapapa sih. Tapi kan dag-dig-dug juga. Hehe. 

Pesawat mulai push back. Setelah beberapa menit kemudian, ada pengumuman dari Flight Attendant, kalau pesawat akan masuk ke area parkir kembali. Kemudian disusul oleh suara kapten kalau tidak salah terdengar "Para penumpang yang terhormat. Dengan kapten pesawat yang berbicara. Kami mohon maaf atas ketidak-nyamanan ini karena pesawat ada kerusakan di bagian pressurized dan menunggu clearance ATC. Kami meminta waktu 10 menit dari sekarang."

10 menit? Singkat cerita, kami menunggu di pesawat hampir 2 jam setelah pengumuman tadi. AC di pesawat tidak dingin, semua kepanasan. Akhirnya beberapa penumpang berdiri, lalu semuanya berdiri minta ganti pesawat. Mereka tidak mempermasalahkan rusaknya pesawat, tapi mereka mempermasalahkan ditahan di dalam kabin pesawat. Kepanasan. Saya juga sih. :|

Sempat terjadi adu mulut antara penumpang dengan pramugari. Sebenarnya kasihan juga sih sama pramugarinya. Mereka tidak tahu apa-apa. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya ada pemberitahuan lagi dari pramugari agar penumpang untuk turun membawa semua barang bawaan untuk pindah pesawat.

Di ruang tunggu, di meja costumer service ada beberapa penumpang yang menuntut ganti rugi. Hadeeh. Mereka menunjuk-nunjuk papan di atas meja yang bertuliskan PM No. 77 Tahun 2011 dan KM No. 25 Tahun 2008 yang berisi peraturan untuk ganti rugi. Padahal gak ada yang kena. Hihihi.

Akhirnya, 10 menit kemudian, pesawat pengganti sudah siap. Penumpang diarahkan ke pesawat pengganti setelah delay 2 jam lebih. Pesawat beregistrasi PK-LIW ini lumayan bersih. Dingin. Sepertinya pesawat ini memang lagi stand by, soalnya pesawatnya baru dinyalakan dengan air starter. 

PK-LIW sedang bersiap

Oh iya, PK-LII adalah pesawat pengganti dari pesawat yang bermasalah di Pontianak. Jadi pesawat ini diganti setelah menjadi pengganti. Hehe.

Tanpa menunggu lama, pesawat take-off dan selamat sampai tujuan. Berdoa agar penebalan runway di Supadio secapat selesai, supaya gak naik classic lagi, jadinya menumpang dengan pesawat yang lebih baru. Hahaha.

Saya pikir juga, untung kejadian ini kejadiannya di Lion Air yang pesawatnya banyak, jadi enak pindah-pindahinnya. Kalau yang pesawatnya terbatas kan repot. Saya sebagai penumpang juga tidak bisa menyalahkan pihak maskapai. Ya namanya juga pesawat sedang trouble, masa dipaksa jalan. Saya sih ogah. Hehehe.

Kadang ada maskapai yang delay, penumpang  main ngamuk-ngamuk aja di ruang tunggu. Tidak peduli itu pegawai mana. Bahkan saya pernah lihat ada salah satu maskapai yang delay, mereka malah ngomel-ngomel ke pegawai Angkasa Pura yang lagi di situ. Laa piyee.. 

Menurut sok tahu saya, kalau memang pesawat sedang dalam perbaikan, ya sudah tunggu saja. Siapa yang mau naik pesawat yang pilot dan mekaniknya main hajar aja demi biar maskapainya tidak dicap tukang delay, padahal pesawatnya sedang dalam masalah? Hiii~

PK-LII dan PK-LIW adalah pesawat tipe Boeing 737-400
Mohon maaf kalau ada teori yang salah dalam tulisan saya. Mohon dikoreksi. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar