Diedit pada 26/06/12
Seperti virus, sebuah film pendek
menularkan keinginan bagi tiap orang yang kreatif untuk mencoba membuat
film pendek lainnya. Begitulah yang dirasakan Teddy Andika ketika
melihat teman-teman di komunitas Fiksimini begitu bergairah membuat film
pendek. Maka keinginan tersebut disampaikan pada penggagas
filmfiksimini, Diki Umbara, yang dengan tangkas menyambut keinginan
besar Teddy untuk menjadi seorang sutradara debutan film pendek.
Dimulailah pencarian ide cerita yang akan difilmkan hingga jatuhlah
pilihan pada sebuah fiksimini bergendre sci fi karya Dedi Rahyudi.
Bukan tanpa alasan cerita ini dipilih, karena fiksimini adalah imajinasi
maka Teddy Andika berkeyakinan bahwa cerita absurd tersebut bisa
dijadikan sebuah film pendek.
Editan dari kesalahan tulisan blog sumber
MESIN PENJUAL WAJAH. “Brengsek!” Koin terakhirku tersangkut. Antrian orang tanpa wajah mulai ribut. Sirene razia berbunyi.
![]() | ||
| Photo by : @eggagaegga |
Dari fiksimini tersebut berkembanglah sebuah kisah di suatu tempat antah
berantah, orang-orang yang hidup di dalamnya diwajibkan memiliki wajah
yang serupa dengan penguasa lalim di sana. Tak peduli lelaki, perempuan
bahkan anak-anak. Wajah temporer itu dapat dibeli melalui sebuah vending machine.
Hingga pada suatu pagi, seorang tokoh terbangun dan mendapati wajah
temporernya mulai hilang. Dia berlari menuju sebuah mesin, untuk segera
mendapatkan wajah. Perlu diketahui bahwa di tempat tersebut sering
dilakukan razia terhadap warganya yang tidak menggunakan wajah
temporer. Jika tertangkap mereka akan dihabisi. Naas bagi tokoh
tersebut, sesampainya di vending machine kartunya tak dapat digunakan, sementara razia berlangsung. Dari sini kejar-mengejar pun dimulai.
Absurd dan sulit. Merupakan hambatan awal dalam merealisasikan film yang
membutuhkan visual effect dalam ceritanya. Tak pelak diperlukan
seorang director visual effect yang mumpuni, dan pilihan jatuh pada
Anggun Adi atau lebih dikenal dengan Goenrock di dunia linimasa. Lewat
diskusi panjang perihal treatment yang akan dimunculkan pada film
tersebut, Goenrock menyetujui untuk mengawaki urusan visual effect film
dimaksud. Film ini diperankan oleh Indra Birowo, Dennis Adishwara dan
teman-teman dari Fiksimini Jakarta.
Berikut crew-nya:
Producer – Dedi Rahyudi
Director – Teddy Andika
Screenplay – Dedi Rahyudi
Technical Director – Anggun Adi
DOP – Muchamad
Nugie
Camera Assistant – Eko Sigit
Lighting Man – Sulis
Sound Man – Pekik Indra Lesmana
Art Director –Mega Hadiyanti Khairunnisa
Make up – Rizki Nur Annisa
Wardrobe – Rumaniko
Talent Co – Oddie
Unit – Ade
Julizar, Rizky Zaldi
Music – Ricky Juniar Pratama.
Editor – Anggun Adi
Cast :
Indra Birowo
Dennis Adiswara
-extras talent-
Marsha Nony S
Andika Rahmawati
Oddie
Dedi Rahyudi
Rizki Nur Annisa
Ade Julizar
Rumaniko
Supporter :
Wira
Dennis's wife
Krisna Sanarta
Krisna's friend
Assistant to Indra Birowo
Assistant to Dennis Adiswara
Hambatan pertama, terlampaui.
Hambatan berikutnya adalah properti. Bagaimana mendapatkan mesin
penjual wajah? Awalnya direncanakan mesin penjualnya menyerupai alat
penjual minuman otomatis yang banyak terdapat di public area. Dengan
mempertimbangkan kesulitan detail pada alat tersebut, maka diputuskan
mesin menyerupai ATM saja. Sehingga tampak lebih digital. Beruntung
Mega Khairunnisa mendapatkan vendor yang mampu menerjemahkan disain yang
diinginkan. Mesin tersebut dibuat dari semacam kardus glossi dengan
layar hijau yang nanti akan digunakan Goenrock untuk proses green
screening.
Penentuan lokasi shooting. Ini adalah hambatan besar berikut yang
justru membuat proses shooting menjadi molor hingga sebulan lebih. Pada
awalnya direncanakan shooting akan dilakukan di Teater Jakarta TIM dan
Museum Iptek/TMII namun terbentur masalah birokrasi perizinan yang
rumit. Beruntung, Fiksimini pernah mengadakan kelas kreatif di Museum
Bank Mandiri di daerah Kota. Memperhatikan spot-spot yang ada, serta
terdapat Mesin ATM antik yang dapat digunakan, dipilihlah tempat
tersebut. Ditambah, Bapak Abubakar Darusalam selaku Kepala Museum Bank
Mandiri sangat mendukung kegiatan ini. Maka ditetapkanlah tanggal
shooting dilakukan pada 12 Juni 2012. Penetapan tanggal pun ternyata
tidak mudah, memperhatikan kesibukan main cast dan crew yang luar biasa.
Kegiatan shooting dimulai jam 09.00 wib di bagian samping museum yang
menghadap ke jalan raya. Hal ini mengakibatkan banyaknya khalayak yang
menonton proses shooting. Maklum saja kali ini shooting melibatkan dua
aktor nasional yang sudah dikenal sebagai selebritas oleh masyarakat.
Ini merupakan masalah tersendiri, tak sekali-dua proses shooting bocor
karena adanya orang yang tiba-tiba muncul dalam rekaman.
Yang unik dari shooting ini adalah proses marking pada wajah
talent-talent yang terlibat. Karena wajah mereka rencananya akan
diganti menjadi menyerupai wajah Indra Birowo dan Dennis. Akting talent
pun menjadi terbatas, karena pergerakan kepala/wajah sangat diatur oleh
sutradara dan director visual effect. Nyaris sepanjang shooting main
cast (Indra Birowo) harus melakukan adegan berlari yang tentunya
memerlukan energi yang luar biasa. Salutnya, tak sedikit terpancar
wajah lelah pada yang bersangkutan. Malah seringkali Indra melakukan
lelucon-lelucon yang membuat crew dan talent terpingkal-pingkal.
Sungguh proses shooting yang melelahkan namun mengasyikkan. Kegiatan
shooting diakhiri menjelang pukul 18.00 wib dengan pindah lokasi ke
sebuah hotel di dekat museum untuk mendapatkan adegan di sebuah kamar
tidur.
Shooting menggunakan kamera 7D dengan
lensa 24-70, 11-16, 70-200. Lighting menggunakan 1 redhead, 2 kinoflo
dan 1 LED ditunjang dengan steadycam dan slider. Dengan sudut-sudut
pengambilan gambar yang unik dan pencahayaan rendah serta warna lowkey,
hampir dipastikan film ini niatnya menyerupai film-film noir. Namun apa
pun hasilnya, Alter ternyata mampu menerabas hambatan besar yang ada.
Ketika BTS ini ditulis film tersebut masih melalui proses editing dan
scoring.
Ditulis oleh: Dedi Rahyudi Foto: Mega Khairunnisa






Keren!
BalasHapusMudah-mudahan jadinya juga keren :)
BalasHapus